Revolusi Warung Tenda

Kolom Yayan SugianaTIPSWIRAUSAHA.COM – Setiap kali menikmati nasi bebek, sea food, serta aneka kuliner lainnya, saya selalu bertanya-tanya sendiri mengenai kreativitas para pedagang makanan itu. Mengapa mereka seragam menggambar seekor bebek, belut, lele, ikan pari, atau ayam yang sedang berjalan di tabir tendanya itu?

Padahal, kalau kita  saksikan restoran-restoran ayam goreng cepat saji, tak pernah sekali pun memampang gambar hewan yang tampak masih bernyawa. Mereka selalu menyajikan gambar hewan itu telah berubah wujud menjadi sajian yang siap disantap.

Jika melihat gambar yang terpampang pada tabir tendanya, terus terang, tak pernah terbit air liur saya. Rasa lapar saya tidak pernah terundang.

Gambar, bagaimanapun, akan sangat berpengaruh terhadap selera pembeli. Itulah sebabnya restoran-restoran yang menyajikan menu bebek peking tak ada yang menampilkan gambar seekor bebek yang sedang berjalan. Mereka selalu menyajikan gambar bebek yang telah dipanggang lengkap dengan warna coklat keemasannya. Minyak pada kulit bebek itu tampak mengkilap sehingga siapa pun akan terbit air liurnya.

Bandingkan dengan gambar bebek pada warung tenda nasi bebek. Dengan gambar yang tampil saat ini, secara pribadi saya membayangkan seekor bebek yang baru naik dari sawah atau sedang mencari makan di comberan. Kakinya kotor dengan lumpur. Tubuhnya menebarkan bau khas unggas itu.

Warung Tenda, Bisnis yang Menggiurkan
Warung Tenda, Bisnis yang Menggiurkan

Warung pecel lele pun demikian. Dengan gambar seekor lele yang tampak hidup lengkap dengan kumisnya, saya hanya membayangkan peternakan lele yang pernah saya kunjungi. Kumuh dan terkesan jorok..

Sebagai konsumen kuliner pinggir jalan, saya sangat menyarankan kepada para pedagang nasi bebek, pecel lele, sea food, ayam goreng, serta pedagang kuliner lainnya, untuk melakukan revolusi besar-besaran terhadap gambar hewan yang terpampang pada tabir warung tendanya. Gak sulit. Bukankah contohnya sudah ada.

Tinggal tiru saja gambar-gambar yang ada di restoran-restoran terkenal itu. Dengan imajinasi dan kreativitas masing-masing, para pemilik warung tenda itu bisa mengadaptasi serta menyempurnakan gambar-gambar tersebut sehingga dapat menarik minat para calon pembeli.

Ke depan, orang-orang yang merasa jijik dengan lele, belut, ataupun bebek, akan tertarik untuk mencoba kuliner berbahan dasar hewan-hewan tersebut. Bukankah gambar hewan-hewan tersebut saat ini telah berubah wujud menjadi gambar hidangan kuliner yang menarik selera.