Haruskah Kita Mengiba Saat Menawarkan Jasa?

Kolom-Yayan-SugianaTIPSWIRAUSAHA.COM – Setiap kali berkunjung ke lokasi bencana lumpur di Kecamatan Porong Sidoarjo, saya selalu dirubung oleh beberapa tukang ojek . Mereka menawarkan jasa mengantar saya hingga mendekati sumber semburan lumpur tersebut.

Terus terang, secara pribadi saya sedikit terganggu dengan cara mereka menawarkan jasa. Terlalu mengiba. Mereka bercerita tentang nasibnya yang tak kunjung beruntung.

Mereka juga bercerita bahwa dirinya merupakan bagian dari korban bencana itu. Telunjuk mereka menunjuk letak lokasi desa tempat rumah mereka terkubur.

Saya juga paham dengan semua strategi itu. Mereka mengharap belas kasihan. Dengan harapan, para pengunjung pun bersedia diantar dengan menggunakan jasa mereka. Setelahnya, berapa pun uang yang mereka minta akan senantiasa diiyakan oleh pengunjung tersebut.

Bagi saya, silakan saja para tukang ojek itu menggunakan berbagai cara. Tapi, Jika dengan cara mengiba-iba, sungguh naif rasanya.

Akan terkesan lebih gentleman seandainya mereka benar-benar menguasai letak, peta, dan sejarah “lokasi wisata” lumpur Sidoarjo tersebut. Biarkan para pengunjung terbuai oleh rasa penasaran. Tariklah minat mereka sehingga bersedia untuk diajak mendekati sumber semburan.

Dengan hanya bermodalkan mengiba-iba,  saya kira, pengunjung hanya sampai pada rasa belas kasihan. Tak akan lebih dari itu.

Seandainya, para pengunjung itu diedukasi dengan pengetahuan seputar bencana lumpur tersebut, saya yakin ceritanya tidak hanya sampai pada rasa belas kasihan semata. Mereka akan mendapatkan ìnformasi plus.

Kelak, informasi tersebut akan disampaikan oleh mereka secara getok tular sehingga mengundang saudaranya atau tetangganya untuk bisa berkunjung ke sana.

Saya kira, strategi yang digunakan oleh para tukang ojek itu juga digunakan oleh beberapa oknum pedagang lainnya. Ada perempuan pedagang koran yang sengaja berjualan di lampu merah sambil menggendong bayi. Tak ada bedanya dengan mengemis.

Sudahlah, hentikan cara merendahkan diri itu. Sudah waktunya kita gunakan model yang lebih bermartabat lagi. Cara instan untuk mendapatkan keuntungan hanya akan berbuah hasil yang instan pula. Selebihnya, kita tidak akan mendapatkan apa-apa lagi.