Kisah Sukses Sate Kelinci Puji Astuti

Sate Kelinci Puji AstutiSalah satu wirausaha dengan resiko minimalis serta tingkat keberhasilan yang tinggi yaitu beternak kelinci.

Dagingnya yang enak dan rendah lemak sangat bagus untuk obat untuk beberapa jenis penyakit, seperti asma, liver, infeksi tenggorokan dan asam urat banyak diminati oleh konsumen.

Semula Puji Astuti  (37 tahun) adalah seorang karyawati di perusahaan farmasi obat-obatan. Pekerjaan itu sesuai dengan latar belakangnya sebagai lulusan sekolah menengah farmasi. Suami Puji Astuti, Achmad Sutarli juga bekerja di tempat yang sama.

Setelah menikah Puji Astuti memilih ke luar dari perusahaan farmasi tersebut pada tahun 2008, petugas penyuluhan lapangan (PPL) Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Dukupuntang memperkenalkan ternak kelinci kepada Puji Astuti dan sejumlah rekannya. Puji Astuti tertarik dan berusaha mencari berbagai informasi mengenai kelinci.

Beliau keluar masuk perpustakaan dan mengikuti beberapa seminar tentang kelinci sampai akhirnya beliau memiliki kesimpulan sendiri. Yaitu kelinci itu seperti kelapa, semuanya bermanfaat, kata Puji Astuti.

Beliau pun mengetahui daging kelinci bermanfaat sebagai obat untuk beberapa jenis penyakit, seperti asma, liver, infeksi tenggorokan dan asam urat. Daging kelinci ujar Puji Astuti, rendah lemak, memiliki protein serta kalsium yang tinggi.

Puji Astuti menerima tawaran untuk memulai ternak kelinci bermodal Rp 200.000. Awalnya beliau membeli lima kelinci. Setengah tahun berselang Puji Astuti mengaku ternaknya berkembang lima kali lipat.

Rata-rata seekor kelinci melahirkan lima ekor anak kelinci, tutur Puji Astuti. Lantaran kandang kelincinya penuh, Puji astuti pun memikirkan cara untuk menjual kelinci-kelincinya sampai terbersit membuka kedai sate kelinci.

Puji Astuti mengaku belajar dari tiga rekannya yang gagal menjalankan usaha sate kelinci. Masalah utama yaitu jumlah persediaan daging kelinci tuturnya. Puji Astuti bergabung dengan Cirebon Rabbit Association atau CRA yang beranggotakan sekitar 50 orang.

Di antara rekan-rekannya yang lain Puji Astuti mengaku sebagai pemilik ternak kelinci terbanyak, yaitu 150 ekor kelinci. Teman-temannnya menurut Puji Astuti, hanya memelihara rata-rata 10 ekor kelinci per orang.

Setiap pekan Puji Astuti memerlukan 50 ekor kelinci pedaging untuk memenuhi kebutuhan para pelanggan di kedainya. Oleh sebab itu sering memesan kelinci ke peternak-peternak di Kabupaten Majalengka, Kuningan dan Bandung.

Dari berdagang sate kelinci Puji Astuti mengantungi untung sebesar Rp 500.000 hingga Rp 1 juta per hari. Puji Astuti dan suaminya juga membuat berbagai barang kerajinan yang terbuat dari bahan kulit kelinci. Dua bulan terakhir beliau mengolah daging kelinci menjadi abon kelinci.

“Sekitar 5 kali gagal tapi sejauh ini 100 toples sampai 50 kilogram abon kelinci bisa saya olah”, tuturnya. Menurut Puji Astuti hasil olahannya itu pernah mengikuti pameran Kredit Usaha Mikro dan Kecil atau KUMK di Bandung. Selain ke Bandung Puji Astuti mengirim abon kelinci ke Semarang Jawa Tengah. Satu toples berisi setengah kilogram abon kelinci diberi harga Rp 20.000.

Sebagian abon kelinci Puji Astuti di titipkan di sebuah toko makanan di Cirebon. Menurut beliau pembuatan Abon bertujuan memperkenalkan daging kelinci pada masyakarat umum.

Puji Astuti berharap para ibu rumah tangga tertarik untuk membuka usaha ternak kelinci seperti dirinya. Menurut Puji Astuti keuntungan beternak kelinci terbilang sangat menguntungkan. Lima ekor kelinci setara dengan satu ekor sapi atau dua ekor kelinci setara dengan satu ekor kambing atau domba.