Kisah Sukses Metavia Berbisnis Kain Perca

Kisah Sukses Metavia Berbisnis Kain PercaTIPSWIRAUSAHA.COM – Kain perca atau yang lebih dikenal dengan sisa potongan kain ternyata bisa disulap menjadi produk yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi. Sebut saja bed cover, seprai, gorden, dan masih banyak lagi. Kunci utama untuk mencapai kesuksesan dalam bisnis produk kain perca ini adalah kreativitas yang tinggi.

Dengan bermodalkan suatu kreativitas, maka potongan kain sisa jahitan tersebut bisa diolah menjadi berbagai aneka produk menarik yang sangat menguntungkan. Contoh real pelaku bisnis kain perca yang sukses adalah Metavia.

Bermula dari Hobi

Metavia adalah pemilik Fafa Quilts & Craft di Jakarta Barat. Metavia membuat kerajinan kain perca dengan menggunakan teknik quilting atau teknik menyambung pada bagian kain yang terpisah. Dan hingga saat ini, ibu dari lima anak itu sudah memproduksi berbagai macam produk, seperti bed cover, selimut, gorden, karpet, tas kain, handuk, celemek untuk masak, dan taplak meja.

Metavia mengolah kain perca dikarenakan hobinya yang sudah ia lakukan sejak tahun 1994 silam. Untuk bisa menguasai teknik quilting dengan mahir, Metavia belajar secara otodidak, hanya dengan mengandalkan guru berupa buku literatur. Dia selalu rutin membaca buku tentang quilting ala Jepang hingga Eropa.

Setelah bisa, Metavia mencoba untuk membuat produk dengan membuat perlengkapan kamar tidur dari kain perca.

“Saya pernah sempat berhenti pada tahun 1998 karena anak-anak saya masih sangat kecil,” terang Metavia.

Membuat Terobosan

Setelah sang anak-anaknya memasuki usia sekolah, Metavia pun kembali menekuni kerajinan kain perca pada tahun 2004. Namun, pada saat ia memulai bisnis ini lagi, para pesaing sudah semakin menjamur, banyak yang telah membuka peluang usaha yang sama.

Metaviapun tidak merasa putus asa. Baginya, kompetisi tersebut merupakan cambuk semangat untuk terus maju dan membuat produk yang lebih menarik dan lebih kreatif.

Nah, untuk memenangkan persaingan tersebut, Metavia pun tidak mau hanya mengandalkan kain perca, ia juga membeli kain baru untuk dijadikan sebagai bahan pendukung produknya. “Saya melakukan penambahan kain untuk memberikan warna lain dalam teknik quilting,” katanya.

Setiap hasil karya Metavia ini dijual dengan harga yang beragam, tergantung dari model dan tingkat kesulitan pembuatannya. Seperti halnya bed cover yang berbahan kain perca katun, ia menjualnya dengan harga berkisar dari Rp 1 juta hingga Rp 4 juta per satu setnya. Adapun sarung bantal, sekitaran harga Rp 70.000 hingga Rp 100.000 per potongnya.

Dengan bantuan enam karyawannya, kini Metavia mampu memproduksi 1.000 potong sarung bantal dan ratusan produk kerajinan lainnya. Dari semua jenis produksi tersebut, dalam sebulan, setidaknya Metaviapun mampu meraup omset  yang sangat besar hingga sebesar Rp 300 juta.

Walaupun demikian, Metavia mengaku merasa kesulitan dalam mengembangkan bisnisnya. Menurut ia, sekarang ini sangat sulit menemukan SDM atau karyawan yang sudah terampil dan menguasai teknik quilting.

Itulah ulasan sedikit tentang peluang usaha kain perca yang dapat memberikan  keuntungan yang sangat besar dan sangat menjanjikan. Bayangkan, dengan hanya bermodalkan sisa kain dam didukung dengan kreativitas, barang bekas atau sisa apapun bisa dijadikan sumber penghasilan yang memiliki nilai jual yang tinggi.

Semoga artikel ini dapat memberikan motivasi dan bermanfaat.

(photo: http://plasa.kemenperin.go.id)